IBU
Ciptaan : Rafli Kaden
OST : Hafalan Surat Delisa
Lirik Lagu Ibu - Rafly (Ost. Hafalan Shalat Delisa) | Ketika saya pertama kali mendengarkan lagu ini rasanya langsung ingin berjumpa sama ibu, begitulah betapa liriknya sangat menyentuh. Lagu Ibu ialah lagu yang menjadi Ost Hafalan shalat Delisa, lagu ini dinyanyikan oleh Rafly yaitu seorang penyanyi asal Aceh.
Oke buat Anda yang sedang mencari Lirik lagu ibu langsung aja lihat dibawah ini :
--------------------------------------------------------------------------------
Lembut kukenang, kasihmu ibu
di dalam hati ku kini menanggung rindu
kau tabur kasih seumur masa
bergetar syahdu, ooh di dalam nadiku
Sembilan bulan ku dalam rahimmu
bersusah payah, oh ibu jaga diriku
sakit dan lelah tak kau hiraukan
demi diriku, oh ibu buah hatimu
Tiada ku mampu, membalas jasamu
hanyalah do'a oh di setiap waktu
oh ibu tak henti kuharapkan do'amu (2x)
mengalir di setiap nafasku (2x)
Ibuuuuuuuuuuuuuu........... (3x)
Lembut kukenang, kasihmu ibu
di dalam hati ku kini menanggung rindu
engkau tabur kasih seumur masa
bergetar syahdu oh di dalam nadiku
Indah bercanda denganmu ibu
di dalam hati ku kini slalu merindu
sakit dan lelah tak kau hiraukan
demi diriku, oh ibu buah hatimu
Tiada ku mampu, membalas jasamu
hanyalah do'a oh di setiap waktu
oh ibu tak henti kuharapkan doamu (2x)
mengalir di setiap nafasku (2x)
Ibuuuuuuuuuu........ (3x)
“Allahummaghfirlii waliwaa lidayya warhamhumaa kamaa rabbayaanii shaghiiraa”
[Artinya : Ya Alloh ampunilah dosa-dosa kedua orang tuaku, Kasihilah mereka, laksana mereka mengasihi diriku semenjak kecilku]
Sabtu, 09 Juni 2012
Lirik Lagu Ibu - Rafly ( Ost. Hafalan Shalat Delisa )
Skripsi...Oh...Skripsi....
Kalau saja kuliah itu bukan amanah orang tua, mungkin, (MUNGKIN), aku tak mau merampungkan skripsiku.Malessssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssss banget. Beraaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaat banget mau mulainya. Bingung. Mau mulai dari mana???????? Hffffffff…. Susah bener ya mau dapat gelar S.Pd aja.
Kalau saja bukan karena Bapak dan Mamak yang udah banting tulang, jemur kulit n merebus perasaan, mungkin sudah aku kemas semua buku-buku kuliahku. Ku masukkan ke dalam kotak dan ku lem pakai lakban, baru simpan di gudang. Lalu sambil melambaikan tangan, aku akan berkata, “selamat tinggal sahabat.” Kemudian aku akan asyik dengan dunia baruku.
Aku yakin, aku akan tetap dapat makan tanpa S.Pd. Aku akan tetap dapat pekerjaan. Dan yang pasti, aku juga akan bertemu dengan jodohku, dengan atau tanpa S.Pd. Gelar bukan segala-galanya bagiku. Yang penting aku terus belajar dan berusaha, pasti akan ada jalan menuju kebahagiaan. Bukankah kebahagiaan itu tidak diukur dari banyaknya gelar akademis yang kita dapat????
Banyak kok, orang yang bergelar sarjana tidak bahagia karena di usiaya yang kepala tiga, ia masih belum juga menemukan pendamping hidupnya. Yang bergelar master tidak bahagia karena telah puluhan tahun menikah belum juga ada tangis bayi di rumahnya. Dan ada juga doctor maupun professor yang sudah mencapai tingkat pendidikan akademis tertinggi, tidak bahagia. Ia terlalu sibuk dengan karirnya sehingga tidak punya waktu bagi keluarga. Tu kan. Gak semua “orang pintar” bahagia.
Ada juga ni, orang yang sederhana, tanpa gelar apa pun, ia bisa bahagia luar biasa. Di usianya yang cukup, ia menemukan pendamping hidupnya, kemudian ia mendapat pekerjaan sesuai dengan keinginannya, tak lama setelah pernikahan, ia dikarunia seorang bayi mungil yang lucu sangat. Rumahnya sederhana, namun suami/istrinya setia. Penghasilannya tak seberapa, tapi masih bisa menafkahi orang tua dan sedekah ke tetangga sekitar, bahkan bisa membuka lapangan pekerjaan untuk anak-anak putus sekolah, sehingga anak-anak putus sekolah tersebut bisa kembali sekolah dan menjadi anak asuhnya. Sholatnya selalu berjamaah, dzikir pagi dan petangnya juga tak pernah lewat. Tilawah dan hafalannya selalu nambah. Anak-anak tumbuh dengan sehat dan cerdas-cerdas. Sekolah di sekolah islam yang bagus. Pokoknya sip lah. Tu kan? Bisa bahagia juga kan?
Kalau tanpa gelar sarjana saja kita bisa bahagia, trus ngapain sih, musti berpusing-pusing ria ngerjain skripsi. Sampai-sampai badan yang dulunya 49 kg, sekarang tinggal 42 kg? sampai-sampai begadang semalam suntuk? Pusiiiiing….
Hfffffffffffffffffff
Tapi kalau aku ingat orang tuaku, bapak dan mamakku, aku jadi mikir, apa iya aku tega bilang sama mereka kalau aku tidak bisa menyelesaikan studiku? Apa iya aku bisa terus mencari alasan kenapa aku belum juga diwisuda, sementara teman2 sekampungku yang juga kuliah di fakultas yang sama sudah memajang foto wisudanya dan sekarang sudah menjadi guru honorer? Apa iya aku masih bisa berdalih, lagi sibuk ngurus A, lagi sibuk ngajar, lagi sibuk yang lain???? Atau, apa aku masih bisa menjawab, “Insya Allah Juli kalau gak September mak.” Sementara 6 bulan lalu, aku bilang, “Insya Allah Maret.” Apa iya aku masih tega bilang ke mereka, “gak jadi Juli atau Septembar mak, Insya Allah November.” Hffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffff….. gak tega…………
“Kok lama, si ndok? Temenmu udah pada selesai kok kamu belum?’’ “Iya, mak…”
Huhuhu…. Ma’af ya mak…..
Aku tahu, mamak ingin segera melihat anaknya jadi sarjana. Fotonya dipajang di dinding rumah yang kusam. Gak papa lah, dindingnya kusam, yang penting ada foto anaknya di wisuda. Lalu mereka akan berbangga dan terus menyunggingkan senyuman ketika bertemu dengan karib kerabatnya. Dengan penuh syukur dan bangga ia akan berkata, “Iya, Alhamdulillah udah wisuda.”
Huhuhu… senyumnya itu lo. Apa iya aku sanggup terus-terusan menunda senyum itu?
Setelah puluhan tahun ia membersarkan kita, dan di lima tahun terakhir ia harus bekerja luar biasa ekstra untuk kuliah kita, dan itu tidak akan pernah kita bayar. Toh, mereka juga tidak meminta bayar atau ganti rugi. Hanya senyum itu yang mereka harapkan. Hanya kata sarjana itu yang mereka idamkan. Bagi mereka, orang tua yang berhasil adalah orang tua yang bisa menyekolahkan anaknya sampai tinggi, meskipun untuk makan sehari-hari saja mereka susah.
Kalau aku gak butuh kata sarjana, aku akan hadiahkan ia untuk sepasang malaikat dalam hidupku yang tercinta. Kalau aku tak butuh toga, anggaplah aku memakainya demi melihat senyum kesyukuran terkembang di pipi keriputnya.
Mamak, bapak. Ma’af ya.. selalu menunda senyum itu…. Jangan marahi aku. Jangan kesal padaku. Ku mohon, tetap sayangi dan ridhio aku. Kini anakmu ini sedang tertatih melangkah, mak, pak. Aku janji, aku tidak lagi menunda senyum itu. Secepatnya ia akan tersungging di wajah malaikatmu. Doakan aku mak, pak. I love You……..
SEMANGAT SKRIPSI…………….!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Sabtu, 19 Mei 2012
Ubuntu Linux: Uninstall / Remove Any Installed Software
Q. I'd like to save some disk space so I'd like to remove unwanted software from my HP laptop. How do I uninstall software under Ubuntu / Debian Linux?
A. Both Ubuntu and Debian Linux provide command line as well as GUI tools to delete / remove binary packages.
GUI Package Management Tool
synaptic is graphical management tool of software packages. It allows you to perform all actions of the command line tool apt-get in a graphical environment. This includes installing, upgrading, downgrading and removing of single packages or even upgrading your whole system.
Just click on System > Administration > Synaptic Package Manager
Now you can select any package and click on Mark for Removal popup meni. You can also start GUI tool from command line, enter:
$ synaptic &
Command Line Package Management Tool
apt-get is the command-line tool for handling packages. It is used for adding / removing / updating packages.
Uninstall / Delete / Remove Package
Just use the following syntax:
sudo apt-get remove {package-name}
For example remove package called mplayer, enter:
$ sudo apt-get remove mplayer
Remove package called lighttpd along with all configuration files, enter:
$ sudo apt-get --purge remove lighttpd
To list all installed package, enter:\
dpkg --list
dpkg --list | less
dpkg --list | grep -i 'http'
Minggu, 25 Maret 2012
Saat Allah Mempertemukan DUA HATI
Saat ini pun aku masih belum percaya bahwa akhwat (baca : gadis muslimah) cantik itu bersedia menerima pinanganku. Di depan sang abi (baca : ayah)-nya itu, aku sempat terdiam, melamun membayangkan betapa aku mungkin tergolong laki-laki paling beruntung di dunia ini. Tak di nyana, tak pernah disangka laki-laki Turki yang telah lama menetap di Indonesia ini dan masih mempunyai ikatan darah dengan salah seorang tokoh idolaku, Harun Yahya. Kelak (insyaAllah) aku akan memanggil pria dihadapan aku ini dengan sebutan “bapak mertua”.
Aku jadi teringat masa dimana aku mulai mengenal ahwat luar biasa ini di salah satu situs komunitas. SAFA begitulah dia memperkenalkan ID-nya. Aku pun tak mau kalah, InsanSains ID-ku, namaku sengaja tidak aku publikasikan. Kami makin akrab dengan seringnya berbagi ilmu dan informasi via Yahoo Messanger maupun email. Jujur, aku banyak mengambil pelajaran dari diskusi-diskusi kami selama ini, gadis lulusan mahasiswi Kedokteran Universitas Indonesia itu banyak membuka wawasan berpikirku, tidak hanya masalah keislaman yang dia mahfum, tapi juga beberapa keilmuan lainnya. Cukup banyak hal yang aku tahu tentang dirinya, itupun aku menyimpulkan sendiri dari tulisan-tulisannya selama ini. Aku sendiri belum pernah melihat foto dirinya seperti apa. Namun yang jelas, kepribadiannya sungguh menarik.
Hingga suatu saat, dia mengirimkan offline message di Yahoo Messangerku.
“Tidakkah kita ingin menyempurnakan separuh dien? ^_^”
Logo smiling face berbentuk garis bawah yang terletak diantara tanda pangkat (^_^) adalah ciri khasnya. Mungkin dia adalah tipe gadis yang selalu periang. Namun yang jelas, pesan singkatnya tersebut membuat diriku tidak bisa tidur nyenyak selama beberapa hari. Kalimat itu selalu muncul di benakku! Tapi apa benar ditujukkan untukku? Lalu apakah istimewanya diriku? Aku pun segera meminta nasihat kepada murabbiku, “Ustadz, tolong donk bagaimana menyikapinya?”. Sang murabbi pun dengan bijak diikuti senyumannya menasehati :
“Akhi… (baca : panggilan untuk laki-laki), umur antum (baca : kamu) sudah pas, pekerjaan antum sudah mapan, keilmuan untuk mengarungi bahtera rumah tangga sudah antum miliki. Tidakkah antum ingin mendapatkan surga sebelum surga?”
Sang murabbi pun melanjutkan,
“Tidak baik menolak akhwat dari keluarga baik-baik. Sudah, segera saja antum balas, antum kirim biodata antum. Biarkan si akhwat mengetahui sebenarnya tentang antum. Dan mintalah dia untuk mengirimkan pula biodata dirinya. Perbanyaklah shalat Tahajjud dan mendekatkan diri kepada Allah. Nanti jika ingin berlanjut, insyaAllah ana (baca : saya, ustadz) insyaAllah membantu”
Kata-kata itu makin membulatkan tekadku. Harus aku akhiri masa lajangku. HARUS..! Dan inilah saatnya. Malam itu pun aku bermunajat di hadapan Sang Penguasa seluruh makhluk, mengadu kegundahan hatiku, meminta petunjuk-Nya. Akhirnya menjelang shubuh itu pula, aku menulis data pribadiku di komputer, mulai dari nama asliku (bukan sekedar ID : insan sains), tempat kediamanku, pekerjaanku, segala hal tentang orangtuaku, bahkan sampai visi dan misi dalam hidupku, segala hal (termasuk kekurangan-kekuranganku seperti mudah marah). File itu pun aku convert ke format PDF, kemudian aku kirimkan kepada gadis tersebut via email
“Bismillahirrahmani rahim
Dengan menyebut nama Allah
Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
Ukhti.. maafkan atas keterlambatan ana membalas
pesan ukhti di YM kemarin. InsyaAllah, hari ini dengan
penuh kemantapan dan kesungguhan ana ingin
melakukan taaruf sebelum berlanjut ke jenjang yang
paling sakral.
Untuk itu, ana kirimkan biodata. Mudah-mudahan
cukup memberikan informasi kepada ukhti perihal
diri ana. Pun ana lampirkan foto terbaru. Ana pun
menunggu biodata balasan dari ukti.
Mudah-mudahan tiap jengkal apa yang kita perbuat
menuai ridha dari Allah swt.
Ya Allah karuniakanlah kepada kami kecintaan kepada-Mu
Kecintaan kepada orang-orang yang mencintai-Mu
dan kecintaan terhadap segala hal yang mendorong kami
untuk mencintai-Mu
Regards,
****** ********“
Tak berselang lama, besoknya, aku pun menerima email balasan.
To : ********@yahoo.co.id
From : **********@gmail.com
Subject : Re : Mudah-mudahan Allah Ridha
“Assalamu ‘alaikum..
Teriring salam sejahtera untuk ikhwan
yang dengan tulus ingin melindungi kesucian diri.
Dan yang dengan ikhlas ingin menggenapkan separuh dien.
Thanks untuk kesungguhannya yach!
Isyah kirimkan biodata balasan.
Jika ada yang kurang jelas bisa ditanyakan kelak. ^_^
Wassalam,
***** *******”
Dengan rasa penasaran, file attachment itu pun menanti untuk dibuka. Rasa tegang menyelimuti perasaanku saat itu… deg..deg……. deg.. deg…! Huh.. jantungku rasanya tidak terkendali. Mulai dari atas aku baca biodata mengenai dirinya.
Nama Lengkap : Siti Aisyah Falihah Assidiqi
Nama Panggilan : Isyah / Syah
TTL : (disembunyikan)
Pendidikan : (disembunyikan)
(disebunyikan)
(dst)
VISI HIDUP : MENJADI BIDADARI DI DUNIA DAN DI AKHIRAT
MISI HIDUP :
Mencari ridha Allah
Berbakti kepada suami
Menjadi ibu teladan dari anak-anak pengibar panji Islam
(dst.. dst…)
Begitu lengkap…!! Seakan apa yang ingin aku tanyakan, sudah ia jawab lebih dulu. Dan dari biodata tersebut aku baru mengetahui ia adalah seorang anak keturunan Turki, ayahnya dari Turki, masih berhubungan darah dengan intelektual muslim Harun Yahya, dan ibunya dari Bandung. Sstt.. tunggu dulu… di halaman terakhir, dia menyisipkan foto wajahnya yang sudah di potong dari foto keseluruhannya. SUBHANALLAH..!! Maha Suci Allah yang telah menciptakan makhluk seindah ini. Mata biru dengan bulu mata lentik.
Satu minggu itupun aku menjauh dari internet, berusaha untuk mendekatkan diri kepada Allah, memperbanyak shalat malamku, menghindar dari buaian-buaian setan yang merayu. Dan tentunya memohon bimbingan dari Allah, untuk ditunjukkan jalan menuju keridha-an-Nya. Bisa jadi gadis tersebut baik dimataku, namun dalam pandangan Allah bisa jadi sebaliknya. Hari-hari itu aku benar-benar menghabiskan malam-malam dengan bermunajat. Al-Quran tidak lupa aku hayati dan maknai tiap katanya, hingga sampai suatu ayat air mataku tiba-tiba berlinang membaca ayat yang berbunyi :
“Wanita-wanita yang tidak baik adalah untuk laki-laki yang tidak baik, dan laki-laki yang tidak baik adalah buat wanita-wanita yang tidak baik (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang di tuduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka. Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (yaitu surga).” (QS. An-Nur, 24:26)
Ya Allah, apakah Engkau menggolongkanku sebagai laki-laki yang baik sehingga Engkau memasangkanku dengan perempuan yang baik pula? Ataukah justru sebaliknya? Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku yang lampau, baik yang disengaja maupun tidak. Karuniakanlah aku hidayah-Mu yang dengan hidayah tersebut, hanya Engkaulah yang menjadi tujuan hidupku. Ya Allah jika sekiranya gadis yang saat ini mengisi hatiku akan menambah kecintaanku kepada-Mu, maka kuatkanlah ikatkannya Ya Rabb. Namun jika gadis yang saat ini mengisi hatiku justu membuatku lupa akan Kebesaran-Mu, maka sungguh, jauhkanlah aku darinya, hapuslah kenangan bersama dengannya, jangan biarkan kecintaanku kepadanya melebihi kecintaanku kepadaMu, lupakanlah dia dari ingatanku.
Ya Allah, Engkau mengetahui bahwa hati-hati kami ini telah berkumpul di tempat ini karena mengasihi-MU; bertemu untuk memenuhi perintah-Mu; bersatu untuk memikul beban da’wah-Mu. Hati-hati ini telah mengikat janji setia untuk mendaulat dan menyokong syariat-Mu. Maka eratkanlah ya Allah atas ikatannya, dan kekalkanlah kemesraan di antara hati-hati ini. Tunjukkan kepada hati-hati ini akan jalan-Mu yang haq. Penuhkan hati ini dengan cahaya Rabbani-Mu yang tidak kunjung padam. Lapangkan hati ini dengan limpahan iman dan keindahan tawakkal kepada-Mu. Hidupkan hati ini dengan ma’rifat tentang-Mu. Dan jika Engkau mentakdirkan mati, maka matikanlah pemilik hati-hati ini sebagai para syuhada dalam perjuangan agama-MU. Engkaulah sebaik-baik sandaran dan sebaik-baik penolong.
Senin malam, saat mataku sudah lelah beraktifitas, dan tubuh sudah lunglai, meminta untuk diistirahatkan, aku pun merebahkan badan dan mulai menutup mata setelah sebelumnya melafadzkan doa tidur. Tiba-tiba sebuah pesan singkat (baca : sms) masuk ke handphoneku.
“Kok beberapa hari ini gak muncul di YM?
Btw.. abi bertanya kapan akan ke rumah? ^_^
From : noname
“Mungkinkah ini Aisyah?” tanyaku dalam hati, karena dalam biodataku aku pun mencantumkan nomor handphoneku. Dengan mengucap basmalah, Ya Allah, mudah-mudahan Engkau ridha! Aku pun segera mengkabari orang tua dan memberi tahu rencanaku selanjutnya dan meminta restunya. Kemudian aku pun menelphone sang murabbi untuk meminta bantuannya meng-khitbah gadis tersebut.
Kini, dengan sang murabbi di samping kiriku aku duduk berhadapan dengan seorang pria berperawakan tinggi besar, hidung mancung, mata berbinar, alis tebal, bulu mata yang lentik, dengan jenggot lebat namun rapi, nyaris tanpa kumis (salah satu sunnah rasul untuk memanjangkan jenggot dan memotong kumis). Pakaiannya benar-benar rapi, baju koko coklat lengan pendek bercorak batik. Sebuah jam tangan stainless melingkar di pergelangan tangannya yang dipenuhi dengan bulu-bulu tipis nan rapih. Subhanallah….! Benar-benar khas Arab.
“Khaifa haluk? Bagaimana tadi nyasar-nyasar tidak cari alamatnya?” tanya sang tuan rumah memecah kebekuan. “Alhamdulillah… ana bi khair. Tidak begitu susah, walaupun nomor rumah dikawasan ini agak ngacak” jawabku. Tak ketinggalan murabbi-ku menyahut dan bahkan mereka jadi lebih enak bicara berdua, dengan sedikit bahasa Arab campuran. Aku hanya cengar-cengir ketika melihat mereka tertawa, dan sesungguhnya tidak ada yang tahu bahwa saat itu hatiku nyaris hilang kesadaran. Aku tidak bisa menahan degupan jantungku yang kian kencang. Aku merasakan tanganku sudah mulai menggigil, ini pertama kalinya aku datang melamar seorang gadis. Apakah lamaranku diterima? Huh… jantung itupun mulai tak terkendali kala sang abi memanggil anak satu-satunya yang tercantik itu,
“Syah… suguhi tamu istimewa kita dong”
Suara sang abi memanggil anak gadisnya di belakang.
“Saudara…???” beliau lupa namaku,
“Insan pak!” sahutku..!!
“Oia… saudara insan mau minum apa?” tanyanya kepadaku. Belum aku menjawab, sambil tersenyum sang abi berkata,
“oh.. lupa.. Aisyah pasti sudah tahu minuman kesukaan nak Insan. Kalau ustadz Mubarak (baca : nama Murabbiku) mau minum apa?”
Mereka berdua tertawa menjadikanku bahan sindiran.
Tiba-tiba dari sudut sebelah sana, seorang gadis nan rupawan dengan jilbab panjang dan gamis yang serba pink mulai mendekat membawakan nampan dengan tiga gelas minuman diatasnya. Perlahan tapi pasti, gadis yang sempat mencuri hatiku itu pun makin mendekat. Pandangannya selalu tertuju kebawah, entah karena takut minuman yang dibawanya tumpah ataukah memang adab menjaga pandangannya. Tapi yang jelas, aku mendengar gemerutuk tutup gelas yang makin terdengar jelas saat datang mendekat. Aku pun tak berani memandang wajahnya, jadi aku hanya menatap meja dan dan tanpa kusadari kupelintir-pelintir taplaknya (tanda gugup). Kuperhatikan sesesok tangan nan putih bergemetar menyuguhkan dan menata gelas. Gemerutuk tutup gelas itu makin keras kala disuguhkan ke hadapanku. Tak ayal lagi hal ini menjadi bahan guyonan dua pria yang merasa sudah berpengalaman dalam hidup. Kami menjadi bulan-bulanan mereka. Ku lirikan mataku melihat dirinya, wajahnya pun memerah karena malu. Aku pun kembali jadi salah tingkah. Aisyah kemudian duduk disamping abi-nya yang tinggi besar itu.
Ya Allah, rasanya baru kemarin aku melihat fotonya, hari ini aku sedang bertemu langsung dengan dirinya. “Loh.. kok pada malu-malu begitu sih?” celetuk murabbiku, dan terdengarlah tawa mereka berdua diatas hati kami yang dag-dig-dug. “Syah.. ini kan di rumah, cadarnya bisa dilepas, lagi pula yang datang kan bermaksud baik, mudah-mudahan apa yang kita perbuat tidak menimbulkan prasangka” perkataan sang abi sambil mengelus-elus kepala gadis yang kini duduk persis dihadapanku. Perlahan aku pun mulai melihat tangan kanan Aisyah membuka cadar yang menutupi wajah beningnya. Subhanallah..!
Dia pun tetap menunduk, dan berkali-kali aku lafadzkan tasbih kepada Allah dalam hati, memuji keagungan dan kemegahan ciptaan-Nya. Baru kali ini aku melihat wajah bersih nan elok, berperangai santun. Inikah BIDADARI SURGA yang TURUN KE DUNIA? Ya Allah, aku hampir tidak percaya atas apa yang aku lihat. Mata birunya berbinar, mengalahkan sinar lampu dalam ruangan itu, wajahnya benar-benar bersih, bibirnya yang merah jambu tanpa pewarna lipstik benar-benar alami. Sesekali kulirik dia sedang menggigit sedikit bibir bawahnya menahan rasa canggung. Aku seakan tersihir oleh pesonanya, tak sadar lagi aku akan pembicaraan dua lelaki yang sudah banyak makan garam. Aku larut dalam keindahan penciptaan tiada banding tersebut.
Ya Allah, inikah calon pendampingku dalam mengaruhi keridha-an-Mu? Mataku masih lekat dengan pemandangan bidadari yang kelak akan menemani sisa perjalananku di bumi ini. Tiba-tiba aku merasakan, sang Murabbi menendang-nendang kaki kiriku. Berkali-kali ia berusaha menyadarkanku untuk kembali menundukkan pandangan, saking kesalnya dia pura-pura menjatuhkan cemilan dan dia mulai beraksi dengan mencubit-cubit kakiku. Dan dengan refleks aku pun menendangnya hingga terpelanting, dan sialnya kini ia membentak, “Woi… shubuh oey…! Adzan baru lewat, kalo gak buru-buru bisa ketinggalan berjamaan di masjid” Hah… shubuh? Dan suara bentakan itu seperti aku kenal? Hah… ternyata teman sekamarku yang membangunkanku dari mimpi terindah.
Syah? Apakah kau masih ada disitu? (*sambil getok-getok kepala)
Baca Selengkapnya......



